Thursday, February 12, 1976

Yuri Rashimov


Berjalan melewati gang-gang sempit di tengah malam bukan merupakan hobi dari Yuri. Si kakek pendek ini terus berusaha mempercepat langkahnya menembus udara dingin. Jakarta bukan kota yang ramah, baik ketika matahari bersinar maupun setelah matahari terbenam. Tingkat kriminalitas demikian tinggi tidak disertai penegakan hukum yang berimbang.

Gang yang harus ia lalu berikutnya tertutup oleh beberapa pemuda yang sedang berbincang-bincang dengan nada yang tidak beraturan. Semoga tak ada masalah. Asap dari rokok mereka tercium jelas ketika Yuri berusaha menyelinap melewati pemuda-pemuda ini. Ketika terpikir ia sudah melewati orang-orang ini, hentakan keras menariknya ke belakang.

"Hey kakek, enak aja lewat nggak permisi!" bentak seorang pemuda. "Ga tau sopan nih" seorang lainnya menimpali. "Setor dulu dong, belum makan nih" pemuda yang mencengkram bahunya tampak berusaha meminta uang dengan paksa. Yuri dapat melihat tiga orang pemuda di sekelilingnya. Satu orang berdiri di depannya sedangkan dua orang di sisi samping kiri dan kanan.

"sebentar ya" kata Yuri singkat. Pemuda di depannya sengaja mengepulkan asap rokok ke wajah Yuri. Sedangkan mereka yang di sampingnya tersenyum mengejek. Yuri tampak sedikit berjongkok , tangannya terlihat berusaha meraih sesuatu di dalam jaketnya. 

"Ugh!" pemuda di sebelah kanannya menjerit tertahan. Hantaman sikut telak mengenai ulu hatinya. Belum sempat membantu rekannya, seorang lagi merasakan kombinasi pukulan menghujani dagu dan rahang. Dua orang terkapar kesakitan di dalam gang. "hey!" pemuda di depan Yuri berteriak dan melepaskan pukulan , namun si kakek dengan gesit mengelak ke samping, dalam hitungan detik, lengan pemuda tersebut terkunci. "krak" terdengar suara tulang dipatahkan. "Ahhh...!!" si pemuda menjerit.

Tinggalah si kakek pendek menatap tiga orang pemuda yang berusaha menahan sakit. Tanpa banyak omong ia berjalan meninggalkan mereka. Tidak lupa ia memeriksa benda di saku jaketnya. Sebuah revolver Smith & Wesson. Jakarta memang bukan tempat yang aman, bagi seorang mata-mata eks Perang Dingin sekalipun.

No comments:

Post a Comment