Monday, March 2, 2015

3 Alasan Mendukung Ahok


Mengapa Ahok banyak mendapat dukungan? atau mungkin pertanyaan ini bisa diubah dengan "Mengapa Ahok harus didukung?" Ada beberapa faktor penting yang membuat Ahok layak mendapat dukungan. Ahok berbeda dengan rata-rata pejabat pada umumnya, bahkan dibandingkan Presiden Jokowi yang sempat lama sekali menjadi media darling, Ahok bisa dibilang lebih baik. Atau mungkin jauh lebih baik. Berikut beberapa alasan mengapa Ahok layak didukung :

1. Ahok Non Partai
Ya, sejak 10 September 2014 Ahok keluar dari partai pendukungnya saat itu (Gerindra), karena berbeda pandangan mengenai Pilkada. Dimana saat itu Ahok menolak RUU Pilkada. Untuk sebagian orang yang sinis langkah Ahok bisa dianggap sebagai kutu loncat politik. Tetapi yang jelas sampai saat ini ia belum tergabung dengan partai manapun. Walaupun sebenarnya banyak tawaran pastinya yang datang untuk Ahok yang menjabat Gubernur DKI Jakarta.

Partai selalu mengiming-imingi hal-hal yang bagus untuk rakyat, terutama ketika Pemilu. Namun setelah tahun Pemilu lewat, partai saling bersaing untuk kepentingan politik. Rakyat sudah muak dengan partai, karena itu Ahok yang tidak mewakili partai apapun banyak mendapat simpati. Ahok bebas bergerak tanpa menunggu kompromi politik. Hal yang kontras dengan apa yang dilakukan Presiden Jokowi ketika terjadi kasus KPK vs Polri. Terkesan Jokowi menunggu masukan dan pertimbangan dari partai politik yang mendukungnya.

2. Ketegasan Total
Seringkali berita meliput Ahok memerintahkan untuk menggusur "orang kecil" sehingga Ahok dianggap musuh orang miskin. Atau ingin menyengsarakan golongan tertentu. Padahal kenyataannya sebelum penggusuran sudah ada perintah untuk pindah ke rumah susun yang disediakan. Atau sang pihak tergusur ternyata bukan warga Jakarta. Ketegasan Ahok tidak hanya terhadap "orang kecil"

Ahok pernah memerintahkan untuk membongkar air mancur di depan Mal Taman Anggrek untuk pelebaran jalan. Dan pembongkaran ini benar-benar direalisasikan (Mei 2014). Sebenarnya bisa saja Ahok kongkalingkong dengan pengusaha mal untuk meminta "uang nego" agar wilayah mal tersebut tidak diutak-atik. Tapi kenyataannya tidak demikian. Tidak ada kompromi pembongkaran tetap dilakukan.

Sejak menjadi pejabat di Jakarta juga beberapa kali ia memecat atau memutasi bawahan yang kurang produktif. Bisa saja ia santai-santai membangun kerajaan di wilayah yang ia pimpin, seperti yang dilakukan kepala daerah lainnya , tetapi hal ini tidak ia lakukan. Sekalipun kesempatan terbuka lebar.

3. Melawan Maksiat
Banyak LSM berkoar-koar anti maksiat, padahal aslinya mereka menjadi pelindung bagi tempat maksiat itu sendiri. Ahok dengan tegas menutup Stadium, sebuah diskotek terkenal. Meskipun ada isu Stadium sudah dibuka kembali, namun isu tersebut tidak benar. Ia hanya menegaskan lokasi tersebut sudah tidak boleh dipakai lagi. Apa yang ia lakukan tergolong berbahaya, menentang secara langsung sindikat narkoba.

Well.....tetapi seperti apa yang ia katakan bahwa ia selalu siap mati.

3 hal di atas masih bisa ditambah beberapa hal lagi, namun sepertinya sudah cukup poin-poin di atas menjelaskan mengapa Ahok (perlu) mendapat dukungan. Ingat setelah Samad , Ahok dijadikan sasaran. Bila Ahok pun akhirnya jatuh, yang berikutnya tinggal menunggu giliran. Mungkin Susi Pudjiastuti atau Risma dari Surabaya. Ini bukan lagi perang antara no 1 vs no 2, tetapi ini perang antara rakyat vs koruptor.

1 comment: