Monday, March 9, 2015

Frederich Silaban dan Riyanto


Saat menanyakan kepada masyarakat Indonesia mengenai kedua nama tersebut, kemungkinan besar jarang yang mengenal mereka. Selain mereka berdua sudah almarhum, pemberitaan mengenai mereka juga sangat minim. Padahal apa yang mereka lakukan merupakan hal yang sangat penting dan bisa menjadi teladan bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan. Bangsa yang multikultural atau memiliki keanekaragaman yang bisa menjadi sautu kelebihan maupun bumerang yang memecah belah.

Frederich Silaban, seorang Kristiani memenangkan sayembara untuk membangun maket Masjid. Rancangannya diberi sandi "Ketuhanan". Kemenangan yang ia peroleh berlanjut dengan membuat desain secara keseluruhan dari Masjid Istiqlal, salah satu Masjid terbesar di Asia Tenggara. Pembangunan Masjid ini didukung penuh oleh Presiden Republik Indonesia saat itu, Ir. Soekarno. Atas rancangannya, Frederich Silaban mendapat hadiah 75 gram emas dan uang 25.000 rupiah. Meskipun sempat tersendat, pada akhirnya Masjid Istiqlal dapat berdiri kokoh di pusat kota Jakarta. Tidak terhitung sudah berapa banyak umat Muslim yang menjalankan ibadah di Masjid tersebut.

Riyanto, seorang anggota Banser NU tewas saat menjalankan tugasnya pada malam Natal, 24 Desember 2000. Saat itu ia berjaga di Gereja Ebenhaezer, Jalan Kartini, Mojokerto. Sekitar pukul 20.30 terdapat bungukusan mencurigakan yang kemudian ia periksa bersama dengan anggota pengamanan lainnya. Mendadak muncul percikan api dari bungkusan tersebut. Dengan sigap ia meminta orang-orang yang berada di lokasi untuk tiarap. Penuh keberanian ia berusaha menjauhkan bungkusan berisi bom tersebut dari area yang dipadati pengunjung. Ia memeluk benda tersebut dan bergerak cepat, namun sayang sekali benda tersebut meledak dan menewaskannya. Nama Riyanto kini dikenang sebagai salah satu nama jalan di Mojokerto.

Frederich Silaban dan Riyanto dua orang dengan latar belakang agama yang berbeda, berusaha mengerjakan sesuatu untuk kepentingan umat yang tidak seagama dengan mereka. Frederich membangun tempat ibadah, Riyanto melindungi jemaat Gereja. Sungguh miris bila membandingkan dengan perilaku orang-orang yang asik menyerang kepercayaan orang lain baik di media sosial maupun di kehidupan nyata. Di jaman yang semakin modern, idealnya pemikiran seperti yang dimiliki oleh Frederich Silaban maupun Riyanto bisa semakin berkembang lagi. Tuhan sudah serba Maha, tidak perlu dibela dengan memusnahkan umat yang berbeda agama. Sebaliknya kita perlu menghargai manusia lain ciptaan Nya meskipun mereka dari kepercayaan yang berbeda.

No comments:

Post a Comment